Selasa, 02 Maret 2021

toleransi umat beragama menurut agama kristen protestan

 

Nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai toleransi, dan nilai-nilai agama Kristen protestan.

 

Disini saya sudah selesai mewawancarai teman saya yang beragama Kristen protestan, yang sebelumnya sudah izin terlebih dahulu.

sejarah Kristen protestan

Protestanisme adalah sebuah denominasi dalam agama Kristendenominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya.

Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik. Kata ini didefinisikan sebagai gerakan agamawi yang berlandaskan iman dan praktik Kekristenan yang berawal dari dorongan Reformasi Protestan dalam segi doktrin, politik dan eklesiologi, melawan apa yang dianggap sebagai penyelewengan Gereja Katolik Roma. Merupakan satu dari tiga pemisahan utama dari "Kekristenan Nicaea (Nicene), yaitu di samping Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks. Istilah "Protestan" merujuk kepada "surat protes" yang disampaikan oleh para pembesar yang mendukung protes dari Martin Luther melawan keputusan Diet Speyer pada tahun 1529, yang menguatkan keputusan (maklumat) Diet Worms yang mengecam ajaran Martin Luther sebagai ajaran sesat (heretik).

Pada kenyataannya, gerakan Reformasi Protestan yang dilakukan oleh Martin Luther bukanlah yang pertama kali terjadi di kalangan Gereja Katolik, sebab sebelumnya sudah ada gerakan-gerakan serupa seperti yang terjadi di Prancis yang dipimpin oleh Peter Waldo (dan kini para pengikutnya tergabung dalam Gereja Waldensis) pada pertengahan abad ke-12, dan di Bohemia (kini termasuk Ceko) di bawah pimpinan Jan Hus atau Yohanes Hus (1369-1415). Gereja Waldensis banyak terdapat di Italia dan negara-negara yang mempunyai banyak imigran dari Italia, seperti Uruguay. Sementara para pengikut Yohanes Hus di Bohemia kemudian bergabung dengan Gereja Calvinis.

Pada 2005, sekitar 5,9%–14.276.459 jiwa dari 241.973.879 penduduk Indonesia, beragama Protestan dan sensus tahun 2010 sekitar 6,96%- 16.528.513 jiwa. Karena pengaruh para misionaris dari Belanda dan Jerman, kebanyakan gereja Protestan di Indonesia sangat diwarnai oleh ajaran Calvin, dan sebagian lagi mempunyai corak Lutheran.

Agama yang ia anut adalah agama Kristen protestan, dimana mereka percaya kepada tuhan yesus kristus dengan iman kepercayaan mereka kepadanya. Cara beribadah mereka tidak memandang hari, jam, bahkan menit, mereka memuji memuliakan nama tuhan dan berdoa kepadanya.

Nilai-nilai keberagaman yang mereka anut ialah bagaimana mereka bisa saling mengasihi, menghormati satu dengan yang lain dan juga harus mengasihi walaupun musuh mereka sendiri.

Nilai-nilai keberagaman agama lain itu sama bagi mereka, karena sama-sama mengajarkan kebaikan, saling menghormati, dan diajarkan nilai-nilai positif dalam hidup kita. Jadi tidak patutlah kita membeda-bedakan dengan mengunggulkan agama masing-masing.

Orang Kristen harus berpegang teguh pada iman eksklusifnya sekaligus hidup bertoleransi dengan orang beragama lain. Lalu bagaimana kedua hal itu bisa berjalan bersamaan dan tidak saling meniadakan ? Di sinilah umat Kristiani harus kembali melihat bagaimana memahami toleransi yang sesungguhnya, yang Alkitabiah.

Dasar-dasar Alkitabiah yang sudah dipaparkan pada bagian I menunjukkan bahwa toleransi yang ditunjukkan pada orang lain / agama lain adalah suatu sikap penghormatan dan penerimaan yang tulus terhadap iman / keyakinan orang lain tetapi itu tidak berarti mengakui apa yang mereka katakan tentang kebenaran apabila klaim itu bertentangan dengan klaim kebenaran Kristen. Dalam Matius 5:45 tertulis “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Dalam ayat ini jelas bahwa Tuhan menerbitkan matahari bagi orang jahat. Tapi apakah itu berarti Tuhan menyetujui kejahatannya? Jelas tidak! Orang jahatnya dikasihi tapi kejahatannya tidak disetujui atau bahkan kejahatannya dibenci. Ia menurunkan hujan bagi orang tidak benar. Tapi apakah itu berarti Tuhan menyetujui ketidakbenarannya? Jelas tidak! Orang yang tidak benar itu dikasihi dengan pemberian hujan kepadanya tapi ketidakbenarannya sama sekali tidak disetujui oleh Tuhan. Jadi terlihat bahwa Tuhan bertoleransi kepada orangnya tapi tidak kepada pandangan / pikiran / perbuatannya.

Dalam konteks iman Kristen mengenai toleransi

1.     Tuhan itu baik bagi semua orang (Mazmur 145:9)

2.     Barangsiapa tidak mencintai ia tidak menyembah Allah (1 Yohanes 4:8)

3.     Gereja mengecam setiap diskriminasi

4.     Gereja mengecam penganiayaan berlandaskan warba kulit, status sosial, ajaran yang berbeda.

Kasih sebagai dasar toleransi beragama

1.     Matius 22:39

2.     I Korintus 13: 4-7

Dasar toleransi umat beragama

1.     Kesamaan harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah. (Kejadian 1:26)

2.     Persaudaraan yang universal (Roma 10:12 ;Galatia 3:28)

3.     Keselamatan universal terwujud dalam Yesus Kristus, diperuntukkan bagi semua orang dan semua bangsa.

Cara membangun toleransi umat beragama

1.     Membangun kesadaran bahwa antar agama memiliki titik temu pada persoalan-persoalan etika dan moral

2.     Mengembangkan sikap dasar untuk saling terbuka, mengakui dan menghargai, serta  berdialog satu sama lainnya

3.     Meningkatkan pemahaman pihak lain melalui studi  bersama dan saling tukar informasi

4.     Menghindari cara-cara yang merusak kerukunan.

5.     Melakukan program bersama

–       Doa bersama

–       Studi tentang praktik keagamaan

–       Pembinaan bersama

–       Karya amal bersama.

Umat Kristiani diajarkan untuk saling menghargai, mengasihi sesama dan berbuat baik pada mereka serta menolong mereka ketika dalam kesusahan, tapi menyetujui apa yang mereka pahami, menerima apa yang mereka katakan sebagai kebenaran, apalagi menyesuaikan ajaran agama Kristen dengan ajaran agama mereka sama sekali tidak dapat dilakukan. Kalau melakukan hal itu, itu bukanlah lagi toleransi namanya melainkan kompromi.

Alkitab menjadi sumber dasar bagi kehidupan umat Kristiani yang bertoleransi dengan orang-orang beragama lain. Dengan demikian seorang Kristen haruslah orang yang bisa hidup bertoleransi dan rukun dengan kelompok-kelompok lain yang berbeda keyakinan / agama dengannya bahkan harus berbuat baik kepada mereka.

Salah satu prasyarat terwujudnya masyarakat yang modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat yang menghargai kemajemukan (pluralitas) masyarakat dan bangsa serta mewujudkannya dalam suatu keniscayaan. Untuk itulah kita harus saling menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Secara historis banyak terjadi konflik antar umat beragama, misalnya konflik di Poso antara umat islam dan umat kristen. Agama disini terlihat sebagai pemicu atau sumber dari konflik tersebut.Sangatlah ironis konflik yang terjadi tersebut padahal suatu agama pada dasarnya mengajarkan kepada para pemeluknya agar hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong dan juga saling menghormati.Untuk itu marilah kita jaga tali persaudaraan antar sesama umat beragama.

Harapannya semoga dengan adanya keberagaman diantara kita semua dapat mengajarkan kita bagaimana cara hidup yang baik seperti semboyan negara kita yaitu bineka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

matkul kewarganegaraan bersama pak Edi

  Assalamualaikum wr.wb teman-teman…. Bagaimana kabar teman-teman ? semoga kalian beserta keluarga sehat selalu ya, dan selalu dalam lindu...