Berbagai budaya, makanan, dan kerajinan tulungagung.
Budaya
Di Kabupaten Tulungagung memiliki beberapa budaya. Seperti tradisi, kesenian, dan bahasa. Namun yang aku jelaskan di artikel ini lebih ke budaya kesenian tarinya, yaitu Tari Reog Kendang. Tari ini dimainkan oleh 6 orang. Jumlah kendangnya pun ada 6 dan masing-masing orang memegang kendang yang suaranya berbeda. Kendang itu di”gendhong”kan di sisi kiri pinggul dengan kain panjang seperti selendang yang diikatkan ke kendangnya. Tarian ini hampir mirip dengan Tari Jaranan dan Roeg ponorogo. Namun Reog Kendang tidak memiliki “Barongan” seperti reog yang lain.
Makanan
Banyak makanan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Salah satunya adalah Ayam Lodho. Tidak hanya lezat, makanan ini bisa dibilang istimewa karena super lezat. Apalagi jika disantap dengan nasi uduk dan urap sayur. Ayam lodho dari tulungagung adalah yang paling populer karena rasanya yang juara. Ayam Lodho dimasak dengan rempah-rempah dan santan kelapa. Ciri khas dari ayam lodho adalah warna kuning keemasan dan rasa pedas yang menggoda selera. Ayam lodho sering dijadikan menu utama dalam acara besar keluarga maupun acara-acara penting lainnya.
Kerajinan
Marmer merupakan kerajinan terbaik di Tulungagung dan terbaik di Indonesia. Hal ini membuat Tulungagung memiliki ciri khas tersendiri yaitu kerajinan marmer. Berbagai macam hasil kerajinan dari batu marmer ini sudah merambah pasar mancanegara. Di daerah tulungagung khususnya campurdarat dan daerah sekitarnya, banyak terdapat perbukitan yang mengandung berbagai macam mineral antara lain batu marmer. Dari sinilah sumber dari batu marmer di dapat. Banyak sekali olahan dari marmer. Tidak hanya patung, namun sampai keramik lantai rumah pun bisa terbuat dari marmer.
Tulungagung tidak hanya memiliki potensi wisata alam, tapi juga kaya dengan beragam kuliner. Berbagai obyek wisatanya makin digemari dan menjadi tujuan wisata bagi turis lokal maupun regional. “Oleh karena itu, kami tidak henti-hentinya mempromosikan potensi Tulungagung. Salah satunya melalui pagelaran seni budaya ini,” tutur Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Heru Santoso, saat memberi sambutan pada acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (12/8). Kabupaten Tulungagung, lanjut Heru Santoso, memiliki banyak kawasan wisata yang terkenal dengan potensi yang sangat besar. Memiliki alam, budaya, pantai. “Tidak hanya itu, kabupaten ini juga memiliki puluhan kesenian tradisional yang menakjubkan. Beberapa diantaranya kami tampilkan di anjungan ini,” ujarnya. Tulungagung juga memiliki perbukitan kapur, yang mengandung pasir gunung, dan batu marmer. Potensi ini banyak ditemukan di bagian selatan Kabupaten Tulungagung. Selain itu, Tulungagung memiliki garis pantai sepanjang 54 kilometer dengan karakteristik yang berbeda-beda. “Antara lain, Pantai Kedung Tumpang dengan karakteristik agak ekstrim karena terdapat kolam di atas batu karang. Sedang Pantai Gemah dan Sine itu karakteristiknya landai. Sehingga cocok untuk wisata keluarga. Semua karakteristik pantai itu sedang kami kembangkan potensi wisatanya,” ujar Heru. Duta Seni Kabupaten Tulungagung menampilkan 4 pergelaran, berupa pertunjukan tari Bedhaya Prajna Paramita, tari Jaranan, lagu daerah Lohjinawi Tulungagung Kota Wisata, serta drama tari Kuncaraning Bumi Penampihan. Tari Bedhaya Prajna Paramita menempatkan perempuan bernama Gayatri Rajapatni sebagai simbol kelembutan dan kasih sayang, yang menjadi ikon Kabupaten Tulungagung. Bukit Penampihan yang terletak di lereng gunung Wilis, diyakini masyarakat pada masanya adalah tempat tinggal Gayatri Rajapatni. Kemudian hal ini menginspirasi para seniman menciptakan sebuah tarian selamat datang. Tarian Jaranan, mengisahkan perang Diponegoro, yaitu antara pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono 1 beserta Raja Mataram, berperang menumpas penjajahan Belanda. Di Tulungagung tarian ini sangat lekat dengan kehidupan masyarakat. Sementara drama tari Kuncaraning Bumi Penampihan menggambarkan pentingnya setiap insan bersyukur atas rahmat, hidayah dan rezeki yang diterima dari Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk rasa syukur tersebut diwujudkan dalam satu tradisi yang disebut ’Buceng Robyong’. Ritual ini sudah menjadi kekayaan budaya masyarakat di Tulungagung yang hingga kini tetap dilestarikan. Hadir di acara ini Kepala Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dwi Suyanto, dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo. Hadir juga para pengurus Pawarta Jatim, dan jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Tulungagung, serta wakil seniman, Hapsari Kusumaningrum yang menerima penghargaan dan tali asih dari Pemerintah Kabupaten Tulungagung. Para seniman yang terlibat di pergelaran ini, Hapsari Kusumaningrum (Sutradara), Asti Kusumaning Ratri (Penulis Cerita), Yuliati Setyo Palupi (Penata Artistik), Irwanto (Penata Musik), Hapsari Kusumaningrum (Penata Tari), Adi Prasetyo (Penata Panggung), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari. Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah Suryandoro (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Nursilah (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII). Pergelaran selanjutnya, Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, akan menampilkan duta seni dari Kabupaten Sidoarjo (19 Agustus 2018), dan Kabupaten Bojonegoro (26 Agustus 2018).
Banyak juga tradisi kejawennya antara lain : malam suroan, mitoni, (kalau orang meninggal 7 harian, 100 harian, nyewu, slametan, dll), tedak siten, tayub, wayang kulit, kentrung, campursari, sepasaran, brokohan, mendhem ari-ari, aqiqah, dan masih banyak lagi. Semua tradisi kejawen yang mereka lakukan untuk membangun tata krama atau aturan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar