Assalamualaikum wr. wb
Teman-teman yang dirahmati Allah semoga
dalam keadaan sehat dan Bahagia selalu aamiin.
Kembali lagi diblog saya semoga dapat
menambah ilmu dan jika ada kekurangan atau kelebihan boleh banget untuk koment
dikolom komentar.
Akhir-akhir ini Indonesia sedang tidak
baik-baik saja, dulu omnibus law, dan pandemic covid 19 yang sampai sekarang
belum berakhir, sekarang munculnya teroris yang masuk ke Mabes Polri.
Bahaya terorisme di Indonesia akan selalu
ada. Tak peduli sebanyak apa para jihadis keblinger yang tergabung dalam
organisasi teror tersebut ditangkapi. Apa yang dilakukan pemerintah, dan
sebagian kecil masyarakat, tampaknya belum cukup untuk menanggulanginya. Bom
Gereja Katedral pada Minggu (28/3) pagi lalu membuktikannya.
Apa yang kurang sebenarnya? Pada 2018,
pasca pengeboman tiga gereja oleh sel JAD Dita Oeprianto cs, pemerintah merevisi
UU Terorisme. Kewenangan polisi diperlebar, ruang penyelidikan dan penyidikan
menjadi sangat besar. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir, lebih dari seribu
orang terduga teroris yang diamankan.
Tapi apa yang terjadi? Aksi bom bunuh diri
terus terjadi. Sel-sel baru terus bermunculan. Paham salafi jihadi –paham para
pelaku teror ini setidaknya dari hasil wawancara saya dengan sejumlah
kombatan—masih terus menyebar.
Padahal, perkiraan total ada sekitar 10
ribuan orang yang tersangkut kasus terorisme. Ini mau diapakan? Bagaimana jika
setidaknya sepuluh persen saja dari mereka memutuskan untuk beraksi. Karena,
toh itu pilihan yang logis. Mau kembali ke masyarakat ditolak, mau berusaha
secara jujur juga sulit.
Kalau hidup normal aja sulit, kenapa tidak
sekalian saja bergabung lagi dengan organisasi yang memberikan makna baru pada
hidup yang sulit. Dan, jika beruntung, syukur-syukur hidup enak sejahtera di
surga, lengkap dengan bidadarinya. Toh, kalau pun mati, mereka juga tidak
kehilangan apa-apa karena memang hidupnya sendiri aja sudah sulit.
Saya sangat menyayangkan aksi teror ini.
Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki ideologi dan pedoman hidup
berbangsa dan bernegara yang sangat kuat. Mengapa aksi ini bisa terjadi? Apa
tujuan mereka yang sebenarnya? Apa dasar mereka melakukan aksi ini? Mungkin
masyarakat masih belum mengetahui hal tersebut secara pasti. Kalau saya boleh
berpendapat mengapa mereka melakukan aksi seperti diatas, karena mereka tidak
memiliki iman dan ketakwaan yang kuat terhadap Allah sehingga mereka bisa
terpengaruh dengan aliran-aliran sesat yang menentang ideologi bangsa Indonesia.
selain itu, mereka juga kurang paham mengenai ideologi bangsa kita. Namun,
menurut saya hal ini tidak bisa disangkutkan dengan agama, karena semua agama
mengajarkan akan kebaikan dan tidak ada satupun agama yang menganjurkan umatnya
untuk berbuat keji dan merugikan orang lain dengan tujuan untuk mendapat
kemuliaan dari tuhan.
Kemajuan teknologi melalui media internet
membuat program penyebaran paham terorisme makin mudah dan makin sulit dilacak.
Akibatnya, sejumlah penduduk Indonesia berhasil pergi ke Suriah dan bergabung
dengan kelompok ISIS.
Pola radikalisasi modern yang menyebar tanpa banyak tatap muka, serta
melibatkan organisasi yang sebetulnya masih dianggap “abu-abu” terkait
keterikatannya dalam terorisme.
Dalam konteks ini, upaya hard approach sebagaimana yang telah
diterapkan pasca tragedi bom Bali sangat tidak tepat dilakukan.
Jika sebelumnya pelaku teroris pasca Bom Bali sangat mudah dijerat atas dugaan
perencanaan aksi teror di Indonesia, mereka yang pergi berjihad ke Suriah ini
sulit dijerat secara hukum.
Mereka memahami dogma yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Mereka
mendapatkan ajaran atas dasar keinginan pribadi dari media massa dan
kelompok-kelompok radikal. Mereka bahkan tidak melakukan aktivitas melanggar
hukum di Indonesia dan hanya pergi untuk mati syahid di Suriah.
Ancaman terorisme adalah nyata, dekat, dan
berbahaya, sehingga dihimbau untuk menghentikan opini-opini konspirasi yang
tidak berdasar, tidak bertanggung jawab dan justru memperkeruh situasi,
terorisme adalah musuh bersama seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu,
Moeldoko meminta masyarakat Indonesia saling menjaga satu sama lain.
"Tetap waspada dan tenang, serta membantu aparat penegak hukum bila
memiliki informasi maupun keterangan terkait aksi terorisme belakangan
ini," ucap dia. Moeldoko menyebut, sebagaimana telah ditegaskan
Presiden Joko Widodo, tidak ada tempat bagi terorisme di Tanah Air. Presiden
juga telah memerintahkan kepala Kepolisian Republik Indonesia, panglima TNI,
dan kepala Badan Intelijen Negara untuk saling berkoordinasi dan meningkatkan
kewaspadaan. Hal demikian dilakukan untuk menjamin bahwa negara hadir untuk
memastikan keamanan seluruh rakyat Indonesia dari rasa takut. "Pemerintah
telah memiliki perangkat hukum dan strategi yang lengkap untuk membongkar sel
teror hingga ke akar-akarnya, termasuk melalui pendekatan hard approach,"
ucap Moeldoko. "Jadi, tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi seluruh
pihak yang terlibat dalam aksi terorisme di Indonesia, seluruhnya akan
dibongkar. Upaya penegakan hukum akan dilaksanakan dengan tegas, adil dan
seefektif mungkin," kata mantan panglima TNI itu. Sebelumnya, aksi teror
terjadi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3/2021). Aksi tersebut terjadi pukul
16.30 WIB saat seorang perempuan berkerudung biru dengan pakaian hitam
menyerang pos penjagaan Mabes Polri. Menurut Kapolri Jenderal Pol Sigit Listyo
Prabowo, perempuan tersebut teridentifikasi sebagai ZA, perempuan 25 tahun
warga Ciracas, Jakarta Timur. Sebelum melakukan penyerangan, ZA sempat
menanyakan pada polisi yang berjaga di mana letak kantor pos. Namun, tak
berselang lama setelah diarahkan, ZA jusru kembali menuju ke pos penjagaan dan
menembakkan senjata ke arah polisi di lokasi. Akhirnya, anggota kepolisian
mengambil tindakan dengan menembak ZA hingga tewas. Penyerangan di Mabes Polri
ini hanya berselang empat hari dari aksi teror yang terjadi di Kota Makassar,
Sulawesi Selatan. Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di depan Gereja
Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Dua orang pelaku bom
bunuh diri tersebut sempat akan masuk ke dalam gereja sebelum dicegah oleh
petugas keamanan.
Sekian yang dapat saya sampaikan
Wassalamualaikum wr.wb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar