Selasa, 06 April 2021

cepat membaik indonesiaku

 

Assalamualaikum wr. wb

Teman-teman yang dirahmati Allah semoga dalam keadaan sehat dan Bahagia selalu aamiin.

Kembali lagi diblog saya semoga dapat menambah ilmu dan jika ada kekurangan atau kelebihan boleh banget untuk koment dikolom komentar.

Akhir-akhir ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja, dulu omnibus law, dan pandemic covid 19 yang sampai sekarang belum berakhir, sekarang munculnya teroris yang masuk ke Mabes Polri.

Bahaya terorisme di Indonesia akan selalu ada. Tak peduli sebanyak apa para jihadis keblinger yang tergabung dalam organisasi teror tersebut ditangkapi. Apa yang dilakukan pemerintah, dan sebagian kecil masyarakat, tampaknya belum cukup untuk menanggulanginya. Bom Gereja Katedral pada Minggu (28/3) pagi lalu membuktikannya.

Apa yang kurang sebenarnya? Pada 2018, pasca pengeboman tiga gereja oleh sel JAD Dita Oeprianto cs, pemerintah merevisi UU Terorisme. Kewenangan polisi diperlebar, ruang penyelidikan dan penyidikan menjadi sangat besar. Hasilnya, dalam dua tahun terakhir, lebih dari seribu orang terduga teroris yang diamankan.

Tapi apa yang terjadi? Aksi bom bunuh diri terus terjadi. Sel-sel baru terus bermunculan. Paham salafi jihadi –paham para pelaku teror ini setidaknya dari hasil wawancara saya dengan sejumlah kombatan—masih terus menyebar.

Padahal, perkiraan total ada sekitar 10 ribuan orang yang tersangkut kasus terorisme. Ini mau diapakan? Bagaimana jika setidaknya sepuluh persen saja dari mereka memutuskan untuk beraksi. Karena, toh itu pilihan yang logis. Mau kembali ke masyarakat ditolak, mau berusaha secara jujur juga sulit.

Kalau hidup normal aja sulit, kenapa tidak sekalian saja bergabung lagi dengan organisasi yang memberikan makna baru pada hidup yang sulit. Dan, jika beruntung, syukur-syukur hidup enak sejahtera di surga, lengkap dengan bidadarinya. Toh, kalau pun mati, mereka juga tidak kehilangan apa-apa karena memang hidupnya sendiri aja sudah sulit.

 Kita tidak tahu apa maksud tersembunyi dari teroris-teroris yang ada di Indonesia, tetapi yang terpenting kita semua harus ikut waspada dan utamanya bagi umat islam untuk selalu melindungi masjid-masjid.

Saya sangat menyayangkan aksi teror ini. Karena Indonesia merupakan Negara yang memiliki ideologi dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang sangat kuat. Mengapa aksi ini bisa terjadi? Apa tujuan mereka yang sebenarnya? Apa dasar mereka melakukan aksi ini? Mungkin masyarakat masih belum mengetahui hal tersebut secara pasti. Kalau saya boleh berpendapat mengapa mereka melakukan aksi seperti diatas, karena mereka tidak memiliki iman dan ketakwaan yang kuat terhadap Allah sehingga mereka bisa terpengaruh dengan aliran-aliran sesat yang menentang ideologi bangsa Indonesia. selain itu, mereka juga kurang paham mengenai ideologi bangsa kita. Namun, menurut saya hal ini tidak bisa disangkutkan dengan agama, karena semua agama mengajarkan akan kebaikan dan tidak ada satupun agama yang menganjurkan umatnya untuk berbuat keji dan merugikan orang lain dengan tujuan untuk mendapat kemuliaan dari tuhan.

Kemajuan teknologi melalui media internet membuat program penyebaran paham terorisme makin mudah dan makin sulit dilacak. Akibatnya, sejumlah penduduk Indonesia berhasil pergi ke Suriah dan bergabung dengan kelompok ISIS.

Pola radikalisasi modern yang menyebar tanpa banyak tatap muka, serta melibatkan organisasi yang sebetulnya masih dianggap “abu-abu” terkait keterikatannya dalam terorisme.

Dalam konteks ini, upaya hard approach sebagaimana yang telah diterapkan pasca tragedi bom Bali sangat tidak tepat dilakukan.

Jika sebelumnya pelaku teroris pasca Bom Bali sangat mudah dijerat atas dugaan perencanaan aksi teror di Indonesia, mereka yang pergi berjihad ke Suriah ini sulit dijerat secara hukum.

Mereka memahami dogma yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Mereka mendapatkan ajaran atas dasar keinginan pribadi dari media massa dan kelompok-kelompok radikal. Mereka bahkan tidak melakukan aktivitas melanggar hukum di Indonesia dan hanya pergi untuk mati syahid di Suriah.

Ancaman terorisme adalah nyata, dekat, dan berbahaya, sehingga dihimbau untuk menghentikan opini-opini konspirasi yang tidak berdasar, tidak bertanggung jawab dan justru memperkeruh situasi,

terorisme adalah musuh bersama seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Moeldoko meminta masyarakat Indonesia saling menjaga satu sama lain. "Tetap waspada dan tenang, serta membantu aparat penegak hukum bila memiliki informasi maupun keterangan terkait aksi terorisme belakangan ini," ucap dia.  Moeldoko menyebut, sebagaimana telah ditegaskan Presiden Joko Widodo, tidak ada tempat bagi terorisme di Tanah Air. Presiden juga telah memerintahkan kepala Kepolisian Republik Indonesia, panglima TNI, dan kepala Badan Intelijen Negara untuk saling berkoordinasi dan meningkatkan kewaspadaan. Hal demikian dilakukan untuk menjamin bahwa negara hadir untuk memastikan keamanan seluruh rakyat Indonesia dari rasa takut. "Pemerintah telah memiliki perangkat hukum dan strategi yang lengkap untuk membongkar sel teror hingga ke akar-akarnya, termasuk melalui pendekatan hard approach," ucap Moeldoko. "Jadi, tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam aksi terorisme di Indonesia, seluruhnya akan dibongkar. Upaya penegakan hukum akan dilaksanakan dengan tegas, adil dan seefektif mungkin," kata mantan panglima TNI itu. Sebelumnya, aksi teror terjadi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/3/2021). Aksi tersebut terjadi pukul 16.30 WIB saat seorang perempuan berkerudung biru dengan pakaian hitam menyerang pos penjagaan Mabes Polri. Menurut Kapolri Jenderal Pol Sigit Listyo Prabowo, perempuan tersebut teridentifikasi sebagai ZA, perempuan 25 tahun warga Ciracas, Jakarta Timur. Sebelum melakukan penyerangan, ZA sempat menanyakan pada polisi yang berjaga di mana letak kantor pos. Namun, tak berselang lama setelah diarahkan, ZA jusru kembali menuju ke pos penjagaan dan menembakkan senjata ke arah polisi di lokasi. Akhirnya, anggota kepolisian mengambil tindakan dengan menembak ZA hingga tewas. Penyerangan di Mabes Polri ini hanya berselang empat hari dari aksi teror yang terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3/2021). Dua orang pelaku bom bunuh diri tersebut sempat akan masuk ke dalam gereja sebelum dicegah oleh petugas keamanan.

Sekian yang dapat saya sampaikan

Wassalamualaikum wr.wb


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

matkul kewarganegaraan bersama pak Edi

  Assalamualaikum wr.wb teman-teman…. Bagaimana kabar teman-teman ? semoga kalian beserta keluarga sehat selalu ya, dan selalu dalam lindu...