Selasa, 30 Maret 2021

toleransi sesama umat islam pun juga ada

 

Assalamualaikum wr.wb

Kembali lagi dengan blog saya semoga tulisan saya ini bisa menambah ilmu dan wawasan teman-teman, serta semoga semua dalam keadaan sehat dan selalu dalam perlindungan Allah SWT aamiin.

Kali ini saya akan membahas kaum minoritas tentang keyakinan di desa saya. Di desa saya memang masih banyak menggunakan adat kejawen, namun ada beberapa kumpulan yang masih sangat kental kejawennya, sehingga orang lain memandang mereka dengan pandangan yang heran karena di era modern ini kita harus bisa mengimbangi dengan zaman yang semakin maju dan semakin luas teknologinya.

Saya mewawancarai salah satu dari perwakilan mereka yaitu teman saya sendiri bernama siti masitoh, yang pertama kenapa mereka masih tetap sangat meyakini kebudayaan jawa dengan kental dan sama sekali tidak mau menyinggung sedikitpun tentang teknologi di era modern ini, jawaban mereka yakni tidak mau mengubah sedikitpun ajaran dari nenek moyang mereka, karena ajaran nenek moyang pasti baik dan benar jadi tidak mungkin sesat. Dan kata mereka kemajuan teknologi di era modern ini sama dengan melupakan ajaran nenek moyang, dan kalau sudah terlena dengannya pasti akan melupakan ajaran nenek moyang dan akan menyesatkannya.  Mereka hanya boleh menggunakan handphone atau gadget untuk menyambung silaturrahim dengan kerabat dan teman-temannya, tidak boleh menggunakan lebih dari itu. Mereka siap menerima apapun resikonya, seperti ketinggalan zaman tadi yang terpenting tidak lalai dari ajaran nenek moyang. Untuk pembatasan pergaulan tidak ada, karena mereka sadar hidup di masyarakat sosial yang tidak mungkin keyakinannya sama semua. Namun, tidak boleh berlebihan apalagi sampai ikut kehidupan yang serba online. Masyarakat disini menyebut mereka dengan islam kejawen.

Epistemologi Islam Kejawen

Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya, meskipun terkadang tradisi dan budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Memang ada beberapa tradisi dan budaya Jawa yang dapat diadaptasi dan terus dipegangi tanpa harus berlawanan dengan ajaran Islam, tetapi banyak juga budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Masyarakat Jawa yang memegangi ajaran Islam dengan kuat tentunya dapat memilih dan memilah mana budaya Jawa yang masih dapat dipertahankan tanpa harus berhadapan dengan ajaran Islam. Sementara masyarakat Jawa yang tidak memiliki pemahaman agama Islam yang cukup, lebih banyak menjaga warisan leluhur mereka itu dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, meskipun bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut. Fenomena seperti ini terus berjalan hingga sekarang. Gambaran masyarakat Jawa seperti di atas menjadi penting untuk dikaji, terutama terkait dengan praktek keagamaan kita sekarang. Sebagai umat beragama yang baik tentunya kita perlu memahami ajaran agama kita dengan memadai, sehingga ajaran agama ini dapat menjadi acuan kita dalam berperilaku dalam kehidupan kita. Karena itulah, dalam tulisan yang singkat ini akan diungkap masalah tradisi dan budaya Jawa dalam perspektif ajaran Islam. Apakah tradisi dan budaya Jawa ini sesuai dengan ajaran Islam atau sebaliknya, bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk mengawali uraian tentang masalah ini penting kiranya terlebih dahulu dijelaskan siapa masyarakat Jawa itu. Setelah itu akan dijelaskan bagaimana munculnya Islam Kejawen dengan berbagai fenomena keagamaan yang terus mengakar hingga sekarang ini, terutama di kalangan masyarakat Jawa.

Kultur mistisisme Islam Kejawen kendati mendapat tantangan dari adanya modernitas dan globalisasi ternyata memiliki sikap tangguh yang dibuktikan eksistensinya hingga dewasa ini. Ritual-ritual -meminjam istilah Clifford Greetz- slametan yang sudah dikombinasi dengan unsur Islam sampai sekarang masih tetap eksis dalam bventuk-bentuk yang beragam seperti upacara kelahiran anak yang diisi dengan bacaan al-Barzanji, upacara mitoni dengan pembacaan surat pitu (tujuh surat dari Al-Qur’an), istighotsah, mujahadah, ratib, manaqiban dan sebagainya adalah indikasi bahwa pribumisasi Islam dalam konteks kultur lokal masih eksis. Ini bukan hanya terjadi di masyarakat Kraton dan pedesaan saja tetapi juga di masyarakat perkotaan.

Dengan demikian, baik kalangan santri, priyayi dan abangan di Jawa masih memiliki pandangan kosmologi yang sama walaupun gelombang keberagamaan puritan juga menjadi fenomena tersendiri dalam keragaman kultural Islam di Jawa dewasa ini. Di dalam Islam, terdapat ajaran universal yang mutlak dan nilai-nilai religius yang adaptif yang dapat dikompromikan dengan budaya lokal dan kondisi sosio-historis masyarakat tanpa harus kehilangan substansi keislamannya. Proses Islamisasi masyarakat yang dilakukan oleh sebagian umat Islam di Jawa tidak perlu meminggirkan pribumisasi Islam yang dilakukan sebagian muslim Jawa. Islam kejawen adalah salah satu bentuk dari proses panjang pribumisasi Islam. Keberadaan Islam Kejawen, dalam kerangka sosiologis, tidak perlu dipertentangkan karena merupakan budaya religius Jawa-Islam. Begitu juga dalam perspektif teologis, Islam Kejawen harus dihargai keberadaannya karena merupakan hasil olah rasa dan olah fikir (ijtihad) para ulama dan teolog Jawa dalam memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai religi dalam kultur lokal.

Tidak ada yang salah, toh ajaran kami juga sama, mungkin hanya berbeda kebiasaan dan keyakinan nenek moyang. Toleransi antar umat islam saja ada apalagi antar umat beragama. Kita masih tetap satu lingkungan, slametan dan adat-adat jawa lain juga masih kami gunakan.

Sekian mohon maaf dan terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

matkul kewarganegaraan bersama pak Edi

  Assalamualaikum wr.wb teman-teman…. Bagaimana kabar teman-teman ? semoga kalian beserta keluarga sehat selalu ya, dan selalu dalam lindu...