Assalamualaikum
wr.wb
Kembali
lagi dengan blog saya semoga tulisan saya ini bisa menambah ilmu dan wawasan teman-teman,
serta semoga semua dalam keadaan sehat dan selalu dalam perlindungan Allah SWT
aamiin.
Kali
ini saya akan membahas kaum minoritas tentang keyakinan di desa saya. Di desa saya
memang masih banyak menggunakan adat kejawen, namun ada beberapa kumpulan yang
masih sangat kental kejawennya, sehingga orang lain memandang mereka dengan
pandangan yang heran karena di era modern ini kita harus bisa mengimbangi
dengan zaman yang semakin maju dan semakin luas teknologinya.
Saya
mewawancarai salah satu dari perwakilan mereka yaitu teman saya sendiri bernama siti masitoh, yang
pertama kenapa mereka masih tetap sangat meyakini kebudayaan jawa dengan kental
dan sama sekali tidak mau menyinggung sedikitpun tentang teknologi di era modern
ini, jawaban mereka yakni tidak mau mengubah sedikitpun ajaran dari nenek
moyang mereka, karena ajaran nenek moyang pasti baik dan benar jadi tidak
mungkin sesat. Dan kata mereka kemajuan teknologi di era modern ini sama dengan
melupakan ajaran nenek moyang, dan kalau sudah terlena dengannya pasti akan
melupakan ajaran nenek moyang dan akan menyesatkannya. Mereka hanya boleh menggunakan handphone atau
gadget untuk menyambung silaturrahim dengan kerabat dan teman-temannya, tidak
boleh menggunakan lebih dari itu. Mereka siap menerima apapun resikonya, seperti
ketinggalan zaman tadi yang terpenting tidak lalai dari ajaran nenek moyang. Untuk
pembatasan pergaulan tidak ada, karena mereka sadar hidup di masyarakat sosial
yang tidak mungkin keyakinannya sama semua. Namun, tidak boleh berlebihan
apalagi sampai ikut kehidupan yang serba online. Masyarakat disini menyebut
mereka dengan islam kejawen.
Epistemologi
Islam Kejawen
Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya, meskipun terkadang tradisi dan budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Memang ada beberapa tradisi dan budaya Jawa yang dapat diadaptasi dan terus dipegangi tanpa harus berlawanan dengan ajaran Islam, tetapi banyak juga budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Masyarakat Jawa yang memegangi ajaran Islam dengan kuat tentunya dapat memilih dan memilah mana budaya Jawa yang masih dapat dipertahankan tanpa harus berhadapan dengan ajaran Islam. Sementara masyarakat Jawa yang tidak memiliki pemahaman agama Islam yang cukup, lebih banyak menjaga warisan leluhur mereka itu dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, meskipun bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut. Fenomena seperti ini terus berjalan hingga sekarang. Gambaran masyarakat Jawa seperti di atas menjadi penting untuk dikaji, terutama terkait dengan praktek keagamaan kita sekarang. Sebagai umat beragama yang baik tentunya kita perlu memahami ajaran agama kita dengan memadai, sehingga ajaran agama ini dapat menjadi acuan kita dalam berperilaku dalam kehidupan kita. Karena itulah, dalam tulisan yang singkat ini akan diungkap masalah tradisi dan budaya Jawa dalam perspektif ajaran Islam. Apakah tradisi dan budaya Jawa ini sesuai dengan ajaran Islam atau sebaliknya, bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk mengawali uraian tentang masalah ini penting kiranya terlebih dahulu dijelaskan siapa masyarakat Jawa itu. Setelah itu akan dijelaskan bagaimana munculnya Islam Kejawen dengan berbagai fenomena keagamaan yang terus mengakar hingga sekarang ini, terutama di kalangan masyarakat Jawa.
Kultur
mistisisme Islam Kejawen kendati mendapat tantangan dari adanya modernitas dan
globalisasi ternyata memiliki sikap tangguh yang dibuktikan eksistensinya
hingga dewasa ini. Ritual-ritual -meminjam istilah Clifford Greetz- slametan yang
sudah dikombinasi dengan unsur Islam sampai sekarang masih tetap eksis dalam
bventuk-bentuk yang beragam seperti upacara kelahiran anak yang diisi dengan
bacaan al-Barzanji, upacara mitoni dengan pembacaan surat
pitu (tujuh surat dari Al-Qur’an), istighotsah, mujahadah, ratib, manaqiban dan
sebagainya adalah indikasi bahwa pribumisasi Islam dalam konteks kultur lokal
masih eksis. Ini bukan hanya terjadi di masyarakat Kraton dan pedesaan saja
tetapi juga di masyarakat perkotaan.
Dengan
demikian, baik kalangan santri, priyayi dan abangan di Jawa
masih memiliki pandangan kosmologi yang sama walaupun gelombang keberagamaan
puritan juga menjadi fenomena tersendiri dalam keragaman kultural Islam di Jawa
dewasa ini. Di dalam Islam, terdapat ajaran universal yang mutlak dan
nilai-nilai religius yang adaptif yang dapat dikompromikan dengan budaya lokal
dan kondisi sosio-historis masyarakat tanpa harus kehilangan substansi
keislamannya. Proses Islamisasi masyarakat yang dilakukan oleh sebagian umat
Islam di Jawa tidak perlu meminggirkan pribumisasi Islam yang dilakukan
sebagian muslim Jawa. Islam kejawen adalah salah satu bentuk dari proses
panjang pribumisasi Islam. Keberadaan Islam Kejawen, dalam kerangka sosiologis,
tidak perlu dipertentangkan karena merupakan budaya religius Jawa-Islam. Begitu
juga dalam perspektif teologis, Islam Kejawen harus dihargai keberadaannya
karena merupakan hasil olah rasa dan olah fikir (ijtihad) para ulama dan teolog
Jawa dalam memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai religi dalam kultur
lokal.
Tidak
ada yang salah, toh ajaran kami juga sama, mungkin hanya berbeda kebiasaan dan
keyakinan nenek moyang. Toleransi antar umat islam saja ada apalagi antar umat
beragama. Kita masih tetap satu lingkungan, slametan dan adat-adat jawa lain
juga masih kami gunakan.
Sekian
mohon maaf dan terimakasih
Wassalamualaikum
wr.wb